Redaksi , Bentara patrolinews.id
Pagi belum sepenuhnya ramai ketika Dg Tojeng mulai mengayuh sepedanya menyusuri jalanan Desa Topejawa, Kabupaten Takalar.
Di atas sepedanya, tersusun rapi ikan-ikan laut segar—hasil tangkapan yang menjadi sumber penghidupan keluarganya.
Tanpa teriakan keras, tanpa spanduk promosi, Dg Tojeng mengandalkan ketekunan dan kepercayaan pelanggan.
Setiap kayuhan adalah harapan. Setiap pemberhentian adalah peluang.
Di sebuah sudut jalan, seorang pembeli menghampiri. Dengan teliti, ikan-ikan itu diperiksa—insangnya, sisiknya, kesegarannya.
Tawaran harga pun mengalir pelan, khas transaksi sederhana yang sarat keakraban. Tak lama, kesepakatan tercapai. Ikan terjual, senyum pun merekah.
Wajah Dg Tojeng tampak sumringah.
Bukan hanya karena dagangannya laku, tetapi karena hari itu kembali memberinya alasan untuk bersyukur.
Dengan tangan cekatan, ia merapikan barang dagangannya yang tersisa, lalu kembali menaiki sepedanya.
Kayuhan itu berlanjut—menuju lorong lain, menuju pembeli berikutnya, menuju rezeki yang ia jemput dengan kerja keras dan kejujuran.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, Dg Tojeng tetap setia pada caranya: mengayuh sepeda, menjajakan ikan segar, dan menjaga martabat lewat usaha yang halal.
Bagi Dg Tojeng, jalanan Topejawa bukan sekadar lintasan. Di sanalah cerita hidupnya terus bergerak, sejauh kaki mampu mengayuh dan harapan terus menyala.
